Langsung ke konten utama

Seni Perkuliahan Pak Direktur

Refleksi Kuliah Filsafat Ilmu Pertemuan Ke-13
Selasa, 12 Desember 2017

Assalamualaikum wr.wb
Atmosfir perkuliahan filsafat ilmu pada hari selasa ini berbeda dengan atmosfir perkuliah filsafat ilmu sebelumnya. Kuliah filsafat ilmu mulai tangga 12 Desember 2017 bagi kami para mahasiswa PPs Penddidikan Matematika Kelas C telah meningkat dimensi, yaitu dari yang diajarkan oleh Pak Masigit sang dosen filsafat ilmu, menjadi diajarkan oleh Pak Marsigit sang direktur pascasarjana yang mahir berfilsafat. Hal ini lah membuat atmosfir perkuliahan hari ini terasa berbeda. Selain itu, dikarenakan Pak Marsigit memiliki agenda sebagai direktur di pagi harinya, maka perkuliahan hari ini atmosfirnya pun menjadi berbeda pula, yaitu yang biasanya dilaksanakan pukul 07.30-09.10 WIB berubah menjadi pukul 10.00-11.10 WIB.  
Perkuliahan filsafat ilmu hari ini adalah perkuliahan pertama bagi kami dengan Pak Marsigit Sang Direktur Pascasarjana. Perkuliahan hari ini dimulai dengan Pak Marsigit menceritakan mengeanai perubahan style, gaya hidup dan aktivitas bapak ketika sebelum dan sesudah menjadi seorang Direktur Pascasarjana, serta bagaimana penyesuaian yang Pak Marsigit lakukan untuk mengatasi perubahan tersebut. Ketika Pak Marsigit hanya sebagai dosen filsafat ilmu, Bapak mengatakan bahwa beliau bersifat bebas dan merdeka, berbicara apa saja bebas. Namun ketika Pak Marsigit sudah menjadi Pak Direktur Pascarsarjana maka beliau sudah tidak bersifat merdeka lagi, sudah menjadi terikat dengan birokrasi/sistem. Oleh karena itu saat ini pembicaraan Bapak saat ini lebih kepada kebijakan dan yang formal, akan tetapi Bapak pun mengatakan bahwa beliau masih bisa berbicara bebas namun hanya pada saat perkuliahan saja.
Pak Marsigit juga menceritakan bagaimana filsafat itu mampu membantunya dalam menjalani tugas sebagai Direktur yaitu ketika Bapak ditugaskan sebagai penguji utama dalam ujian tesis/disertasi mahasiswa dari prodi lain. Karena semua ilmu dapat dikaji dalam filsafat yaitu secara filosofinya, sehingga walaupun tidak mengerti ilmunya secara tepat namun dengan filsafat kita akan mampu menyadari makna filosofinya. Makna bahwa ilmu/pengetahuan itupun terbatas semuanya akan kembali pada Kuasa Tuhan.
Selain itu, semenjak Pak Marsigit menjadi Pak Direktur maka paradigma perkuliahan pun ikut berubah yang dahulunya secara filsafat bersifat kontradiksi yaitu dari dosen filsafat ilmu untuk pak direktur, saat ini telah menjadi bersifat identitas yaitu dari pak direktur untuk pak direktur. Sungguh fenomena yang unik, lamgka dan tiada duanya sekali. Sehingga Pak Marsigit mengatakan bahwa kami harus bersyukur dan memanfaatkan fenomena ini, karena adanya fenomena ini berarti kebijakan, pemahaman, informasi akan langsung dan lebih cepat kami ketahui. Dan jika ada permasalahan-permasalahan dalam perkuliahan maka dapat segera disampaikan.
Selanjutnya pada pagi itu Pak Marsigit pun membawa oleh-oleh untuk diberikan kepada kami, yaitu berupa informasi yang baru saja beliau dapatkan dari kegiatan mengenai penulisan jurnal yang baru saja beliau ikuti.  Oleh-oleh yang dibawa oleh Pak Marsigit ini sangat berharga dan penting sekali bagi kami, hal ini karena publikasi jurnal merupakan syarat bagi kami untuk yudisium dan lulus.
Pak Marsigit menuturkan bahwa ada du acara yang dapat dilakukan oleh mahasiswa untuk publikasi, yaitu mengikuti seminar internasional yang diadakan di UNY, dimana prosidingnya sudah terindeks scopus, atau menyerbu tempat lain yang juga menyelenggarakan seminar internasional yang prosidingnya juga sudah terindeks scopus. Kami sebagai mahasiswa harus melek informasi mengenai seminar internasional agar tidak tertinggal dan terlambat, dan untuk itu Pak Marsigit menginformasikan kepada kami agar membuka dan mempelajari webofconference karena pada web tersebut ada jadwal kegiatan-kegiatan seminar internasional.
Oleh karena itu, Pak Marsigit menyarakan kan kepada kami untuk segera melakukan antisipasi yaitu mulai dari semester 1 sudah membuat artikel penelitian, dengan penelitiannya dapat berupa studi kasus, sehingga nanti semester 4 sudah terbit di jurnal karena pengiriman hingga artikel itu diterbitkan memakan waktu yang sangat lama. Hal ini sudah didukuag oleh paradigma pendidikan saat ini yang sudah berparadigma riset. Sehingga pendidikan di perguruan tinggi paradigmanya riset, kuliah filsafat ilmu juga riset, semua ilmu sudah berparadigma riset. Guru bisa mengajar karena ada riset, kita pun dapat belajar karena ada riset, dan kita pun dapat mengembangkan model juga karena ada riset.  Oleh karena itu saat ini kita adalah sebagai researcher, bahkan seorang siswa, dosen, dan direktur pascasarjanapun adalah researcher. Hal ini karena semua ilmu dan pengetahuan kita terangkum dalam penelitian yang kita lakukan. Oleh karena itu, Pak Marsigit menyarankan kepada kami untuk mulai membaca dan belajar dari buku-buku dan jurnal-jurnal penelitian sehingga akhitnya kami dapat lulus dalam waktu 2 tahun.
Selain itu, melalui oleh-olehnya Pak Marsigit menyarankan bahwa dalam artikel penelitian yang kita buat kita adalah penulis pertama, dan dapat ditulis secara mandiri atau berkerja sama dengan pembimbing. Namun jika ditulis secara mandiri, ada beberapa seminar internasional yang tidak mau menerimanya karena jurnalnya terkesan gengsi sehingga jika seminar tersebut banyak diisi oleh mahasiswa yang notabene baru penulis pemula maka seminar internasioal tersebut dapat turun derajatnya. Oleh karena itu Pak Marsigit menyarankan untuk bekerja sama dengan pembimbing.
Selanjutnya, Bapak juga menjelaskan bahwa publikasi yang dapat dilakukan oleh mahasiswa dapat melalui dua cara yaitu prosiding terindeks scopus dan jurnal internasional berkualitas. Artikel yang dimuat di prosiding berbeda dengan artikel yang dimuat di jurnal internasional. Aritkel pada prosiding hanya terdiri dari 6-7 halaman sedangkan pada jurnal interaniosal lebih banyak. Sehingga jika ingin mengirimkan artikel pada seminar internasional yang prosidingnya terindeks scopus, maka yang dimuat dalam artikelnya adalah yang menarik-menarik saja.
Lebih lanjut melalui oleh-olehnya Pak Marsigit menginformasikan bahwa ada dua kunci utama agar artikel/prosiding yang kita buat masuk ke dalam jurnal terindeks scopus, yaitu (1) keterbacaannya, artinya artikel yang kita buat harus memiliki bahasa inggris yang 100% benar; dan (2) referensinya, artinya citationnya harus berkualitas. Karena mahasiswa masih merupakan penulis pemula maka kami harus menghindari dari gagal fokus (fokus pada 1 hal dan lupa akan yang lain). Misalnya saja mengambil tema mengenai PAKEM, kemudian di dalam penelitiannya kita sudah menyebut-nyebut dan membangga-banggakan PAKEM padahal para pembaca tidak mengerti PAKEM itu apa dan bagaimana. Oleh karena itu mahasiswa dalam penulisan artikel itu harus berkonsultasi pada coaching clinic. Selain itu Pak Marsigit juga menyarankan kepada kami agar untuk me citation dosen-dosen sendiri karena hal itu dapat membantu berkembangnya universitas itu sendiri.
Banyak sekali yang menjadi topik pembiacaraan dalam perkuliahan pada pagi, namun demikianlah yang dapat saya refleksikan dari perkuliahan filsafat ilmu pertemuan 13, Selasa, 12 Desember 2017. Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan, sekian dan terima kasih.
Wassalamualaikum, wr.wb


Komentar