Langsung ke konten utama

Masih Kuliah Pertanyaan

Refleksi Kuliah Filsafat Ilmu Pertemuan Ke-9
Selasa, 14 November 2017


Assalamualaikum wr.wb
Hari ini, Selasa 14 November 2017 perkuliahan di laksanakan sesuai dengan ruang dan waktunya yaitu di ruang 5.01.13 dan di waktu 07.30 hingga 09.10 WIB. Seperti selasa minggu lalu kuliah hari ini dimulai dengan pertanyaan dan isi perkuliahannya berdasarkan pertanyaan mahasiswa.
Tes jawab singkat hari ini mengenai wadah dan isi. Secara filsafat, Komponen dasar dari segala yang ada dan mungkin adalah wadah dan isi, sehingga semua yang ada di dunia ini memiliki wadah dan isi. Wadah dan isi saling berkaitan. Wadah tidak akan disebut wadah jika tidak ada isi, dan Isi tidak akan bisa disebut isi jika ia tidak ditempatkan dpada suatu wadah. Contoh sederhana dari wadah dan isi adalah manusia. Manusia adalah wadah, sedangkan isinya adalah ruh, semangat, dan jiwa.
Setelah membahas hasil tes jawab singkat kemudian perkuliahan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Berikut adalah beberapa pertanyaan yang disampaikan oleh mahasiswa.
Pertanyaan mahasiswa pertama,
“Mengapa untuk menggapai suatu kebahagiaan harus diawali dengan kesedihan atau kesengsaraan?”
Berikut adalah tanggapan Pak Marsigit:
Pertanyaan ini adalah suatu bentuk tesis seseorang. Orang lain bisa menjawabnya dengan tesis nya sendiri, yaitu kebahagiaan tidak selalu harus diawali dengan kesedihan dan kesengsaraan. Filsafat adalah penjelasan, bagaimana seseorang bisa menjelaskan tesisnya kepada orang lain semudah-mudahnya sehingga orang itu menjadi paham. Sehingga sebenar-benar filsafat adalah penjelasan. 
Pak Marsigit lebih lanjut menjelaskan bahwa kebahagiaan atau kebaikan dari segi filsafat adalah bagian dari yang ada dan yang mungkin ada, dan berpotensi melahirkan kemungkinan kebahagiaan dan ketidakbahagiaan. Bahagia di dalam hidup adalah bersyukur, dan orang yang paling bahagia adalah orang yang mampu bersyukur. Bersyukur dapat diwujudkan dalam bentuk doa dan mendekatkan diri kepada Allah. Semuanya berpusat kepada keyakinan.
Segala objek yang ada dan mungkin ada dapat mengalami kebahagiaan ataupun ketidakbahagian, maka semua makhluk ciptaan Tuhan di dunia dapat mengalaminya. Kebahagian dan ketidakbahagiaan akan tergantung pada subjek dan objeknya. Sebuah batu pun dapat mengalami ketidakbahagiaanya, yaitu ketika ia terlempar lalu pecah berkeping-kepinng. Secara secara material batu itu telah mengalami ketidakbahagiaan, karena sudah tidak bisa bermanfaat bagi orang lain lagi. Namun apabila batu yang sudah pecah tadi dapat digunakan untuk membangun rumah atau sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan orang, maka berdasarkan hukum kodratnya batu itu bahagia, karena ia bisa digunakan dan memberikan kebahagiaan bagi orang lain.

Pertanyaan mahasiswa kedua,
Berkaitan dengan ibadah umrah Pak Marsigit. Diketahui bahwa bersamaan dengan ibadah yang dilaksanakan Bapak di tanah suci, juga diadakan doa bersama oleh kerabat Bapak di rumah untuk mengirim doa dan mendoakan ibadah yang sedang Bapak tunaikan. Pertanyaannya adalah, apakah pada saat itu Bapak merasakan keajaiban atau hadiah dari doa bersama yang dilakukan di rumah?
Berikut adalah tanggapan Pak Marsigit:
Pak Marsigit mengatakan bahwa jawaban ini bersifat subjektif, karena berdasarkan apa yang dirasakannya sendiri. Mengenai apakah benar itu adalah berkah dari doa yang dikirimkan, tentunya kita tidak bisa memastikannya. Sebelum berangkat umrah, sebagai orang yang bukan ustad ataupun kyai ternyata Bapak sempat memiliki keraguan akan ketidaksiapan dan kurangnya bekal yang dimilikinya ketika akan beribadah umrah. Namun pada saat itu tiba-tiba ada permintaan dari satu kelas yang diajar oleh Beliau, untuk melakukan shalat hajat.
Kemudian akhirnya diselenggarakanlah shalat hajat sekaligus siraman rohani dan doa bersama. Secara psikologis, segalanya memang terasa dimudahkan pada saat di tanah suci. Menyentuh hajarul aswat adalah cita-cita. Pada awalnya usaha untuk menggapainya begitu kuat, beberapa meter sebelumnya malah terpental. Kesempatan selanjutnya, Bapak pasrah kepada Allah jika memang diizinkan untuk menyentuh, maka pasti akan terjadi. Disanalah terjadi keseimbangan antara usaha dan ikhtiar. Ketika kita memaksakan diri dan hanya mengandalkan kekuatan fisik tanpa bertawakkal kepada Allah, usaha kita menjadi sia-sia. Usaha harus diiringi dengan ikhtiar. Menunaikan ibadah haji dan umrah merupakan cita-cita bagi semua umat muslim di dunia. Dalam melaksanakannya, niat kita harus benar-benar ingin mendekatkan diri kepada Allah. Dengan ridho Allah, jarak kita dengan Allah akan sangat dekat. Ibaratnya, jika kita maju satu langkah, Allah telah berlari menghampiri kita dalam seribu langkah. Jika kita tidak mempercayai bahwa jarak kita dengan Sang Khalik adalah sangat dekat, maka kita tidak akan pernah meraih rahmatNya. Dari segi filsafat, Allah itu adalah aturan yang ‘maha’ dan aturan yang absolut, maka dunia mengikuti aturan Allah.

Pertanyaan mahasiswa ketiga,
“Bagaimanakah pendapat Bapak mengenai Syekh Siti Jenar yang juga merupakan filsuf?”
Berikut adalah tanggapan dari Pak Marsigit :
Mempelajari filsafat adalah mempelajari tokoh dan pikirannya. Maka jika kita ingin mendalami suatu tokoh, kita juga harus mengetahui dunianya, salah satunya adalah dengan membacar pemikiran-pemikiran yang ada dalam literature-literaturenya. Akan tetapi pemikiran-pemikiran para filsuf dalam filsafat itu saling berkaitan, maka kita tidak cukup hanya membaca pemikirannya saja namun juga harus membaca literarute lainnya. Sebagi contoh:  Jika kita mengenal Immanuel Kant, maka tidak mungkin kita tidak membaca literaturan pemikiran para filsuf yang lain karena ada keterkaitan antara pemikiran Kant dengan filsuf lainnya.
Dalam spiritual, kita mengenal ajaran agama kita masing-masing, seperti terjadinya proses pembentukan bumi yang merupakan ciptaan Allah. Hal seperti ini tentu tidak dapat ditemukan dalam pemikiran filsuf yang populer di dunia. Karena filsafat adalah pikiran, tentu kita menggunakan pemikiran filsuf sebagai pandangan atau pedoman. Sedangkan untuk keimanan, umat di dunia memiliki kiblat yang berbeda-beda sebagai panutan. Saling memahami perbedaan juga merupakan olah pikir sehingga kita dapat membeda-bedakan sesuatu. Contoh sederhananya, tidak mungkin ada besar jika tidak ada kecil. Tidak mungkin ada yang sulit jika tidak ada kemudahan.
Jangankan Syekh Siti Jenar yang extreme, kita semua pasti punya keinginan untuk dekat dengan Allah SWT. Permasalahannya adalah pada beberapa orang, ketika ia merasa sudah sangat dekat dengan Allah SWT, kemudian ia menganggap dirinya sudah menjadi Tuhan. Terkadang jika kita berdoa khusyuk, kita merasa diri kita menyatu dengan Tuhan. Padahal itu merupakan perbuatan yang salah, yang berdosa. Perasaan-perasaan seperti ini sebaiknya  hanya disimpan di dalam hati agar tidak mengganggu syiar Islam. Seperti yang terjadi pada Syekh Siti Jenar, konon akhirnya dihukum mati oleh Wali Songo. Pengikutnya pada saat itu sudah sangat banyak sehingga makamnya banyak didatangi oleh para pengikutnya. Menurut salah satu buku, makan Syekh Siti Jenar dipindahkan ke tempat yang lain agar pengikutnya tidak berziarah ke makamnya.

Demikianlah beberapa pertanyaan yang disampaikan mahasiswa dalam kuliah filsafat pada hari Selasa, 14 November 2017. Pertanyaan-pertnyaan yang disampaikan oleh mahasiswa itu beragam mulai dari yang berkenanan langsung dengan filsafat kemudian ada juga yang mengenai agama. Filsafat adalah olah pikir, dan ilmu hadir karena hasil olah pikir, maka semua ilmu atau ranah kehidupan yang mulai dari material, formal, normative, hingga kepada spiritual dapat ditansfirkan, dijelaskan, atau diterjemahkan kedalam filsafat.  Perkuliahan hari ini pun masih bertemakah pertanyaan-pertanyaan mahasiswa, dan karena mahasiswa sebagai kodrat memiliki perbedaan maka pertanyaan yang disampaikannya pun berbeda dan akhirnya jawabannya pun berbeda-beda pula. Sehingga semakin banyka pulalah ilmu yang kita peroleh. Sekali lagi saya ucapkan sekian, terima kasih, mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan.

Wassalamualaikum, wr.wb


Komentar