Langsung ke konten utama

Kesenian Berperan Ganda

Deskripsi Nilai Etik dan Estetika dari Pertunjukkan Wayang Kulit

Assalamualaikum wr.wb


Pertunjukan wayang bukanlah hal yang baru bagi orang-orang yang sudah tinggal di daerah yang memiliki warisan budaya yang sangat kental. Bahkan pertunjukkan wayang kulit sudah menjadi acara tetap yang selalu dilaksanakan. Pertunjukkan wayang bagi daerah yang kental akan warisan budaya di pandang sebagai salah satu cara untuk melestarikan warisan budayanya. Pemerintah daerah pun merasa hal ini sangat tepat untuk melestarikan warisan budaya daerahnya. Hal ini dikarenakan dunia saat ini semakin pesat, teknologi pun semakin canggih, semua aspek kehidupan mendapat imbas dari pekembangan dunia, temasuk budaya. Pertunjukkan wayang dianggap sebagai solusi untuk mempertahankan keberadaan budaya di tengah kecanggihan zaman.
Bagi saya menonton pertunjukkan wayang kulit merupakan pengalaman pertama. Pertunjukkan wayang kulit yang saya tonton dilaksanakan pada hari  Kamis, 30 November 2017 di Pendopo Musem Sonobudoyo. Pertunjukkan wayang kulit yang saya tonton merupakan bagian dari kisah cinta rama dan sinta, dan pada hari itu serial pertunjukkan itu telah memasuki episode kelima, yaitu mengenai matinya Prahasta.
Selama menonton pertunjukkan wayang itu tidak ada satupun perkataan sang dalang yang saya ketahui, bahkan ketika saya bertanya kepada teman saya yang asli orang jawa pun, dia mengatakan bahwa dia pun kesulitan memahami perkataan dalangnya. Melalui hal itu saya mengetahui bahwa bahasa jawa yang digunakan dalam perwayangan berbeda dengan yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu ketika pertama kali tiba di tempat saya terkagum karena sebagian besar yang menonton pertunjukan wayang pada hari itu adalah orang luar negeri. Padahal jika saya pikirkan kembali, saya yang asli orang Indonesia saja tidak bisa mengerti bahasa dalangnya. Bagaimana dengan mereka??? Ternyata tujuan utama mereka menonton pertunjukkan wayang bukanlah untuk mengetahui bagaimana kisah rama dan shinta. Melainkan untuk melihat salah satu warisan budaya Indonesia. Hal itu terlihat dari gerak gerik mereka yang lebih banyak mengabadikan pertunjukkan wayang kulit tersebut, baik itu melalui di foto atau malah dengan di rekam.
Orang luar negeri itu dan saya tetap mengikuti pertunjukkan hingga akhir. Akan tetapi jika kami tidak bisa memahami isi cerita yang disampaikan oleh dalang, maka apa yang dapat kami ingat dari pertunjukkan wayang tersebut. Yang akan selalu akan kami ingat, tiada lain dan tiada bukan adalah nilai etik dan nilai estetika yang terkandung di dalamnya.
Lalu nilai etik dan estetika apa yang kamu ingat dari pertunjukkan wayang??? Maka dengan pemahaman saya yang terbatas beginilah jawabannya.
Nilai etik adalah nilai yang berkaitan dengan benar dan salah yang dianut oleh golongan atau masyarakat. Secara sadar atau tidak disadari banyak nilai etik atau nilai moral dan sosial yang terdapat di dalam pertunjukkan wayang.
Misalnya adalah nilai sopan santun. Nilai sopan santun terlihat dari segala gerak gerik dalang, niyaga (orang yang memainkan musik), dan pesinden. Ketika dalang sedang  memainkan wayang-wayangnya, semua petugasnya terdiam mendengarkan secara serius. Nigaya dan pesinden baru memainkan alat musiknya dan bernyanyi ketika sang dalang berhenti memainkan wayangnya. Hal itu mengisyaratakan kepada kita untuk selalu bersikap sopan santun, menghargai orang yang sedang berbicara. Ketika orang lain berbicara maka kita perlu mendengarkan secara seksama, tidak berbicara, lirik kesana kemari, atau dengan kata lain kita memfokuskan semua perhatian kita kepada orang yang berbicara. Nilai sopan santun juga terlihat dalam cara duduk, dan gerak gerik dalang, niyaga dan pesinden selama petunjukkan.
Nilai etik juga terdapat di dalam kisah wayangnya itu sendiri. Kisah dalam pertunjukkan wayang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, yang di satu sisi memiliki pahlawan kebaikan dan di satu sisi juga memiliki musuh. Sehingga kisah dalam pertunjukkan wayang itu akan selalu memiki pesan moran dan sosial, yang dapat berupa bagaimana contoh-contoh perbuatan baik dan akibat dari perbuatan jelek yang dilakukan oleh manusia.
Sedangkan nilai estetika adalah nilai yang berkaitan dengan keindahan yaitu baik dan buruk. Sudah sangat jelas terlihat dalam pertunjukkan wayang selain terdapat nilai etik juga terdapat nilai estetikanya. Pertunjukkan wayang merupakan karya seni maka tentulah ia mempunyai nilai estetika.
Nilai estetika/keindahan yang pertama dapat terlihat di dalam penampilan fisik dari unsur dalam pertunjukkan wayang itu sendiri. Mulai dari wayang kulitnya, yang menunjukkan nilai estetika yang sangat tinggi hal ini terlihat dari bentuk ukiran wayangnya. Bahkan setiap tokoh memiliki bentuk yang berbeda-beda sesuai dengan karakteristik tokohnya. Nilai estetika juga terlihat dari bagaimana penataan wayang kulit tersebut pada debog. Wayang-wayang kulit tersebut disusun secara rapi, dari yang ukurannya terkecil hingga terbesar.
Kemudian nila estetika juga hadir ketika dalang memainkan wayangnya. Setiap adegan dimainkan berbeda-beda oleh dalang, ketika adegannya sedang berkelahi maka ia akan menaikkan bolum suaranya dan kemudian memainkan wayang seperti adegan berkelahi.
Nilai estetika juga nampak dalam cara berpakaian dalang, nigaya, dan pesinden. Mereka memakai baju adat dan memakainya dengan rapi. Hal itu bagi saya itu juga sudah merupakan nilai estetikanya.
Nilai estetika yang kedua ditunjukan dalam peralatan music dalam pertunjukkan wayang. Ketika para nagiya dan pesinden sedang melantunkan music dan nyanyiannya hal itu memberikan kesan keindahan bagi para penonton yang mendengarkannya.
Berdasarkan uraian ini terlihat bahwa pertunjukkan wayang bukan hanya sebagai media untuk melestarikan warisan budaya melainkan dapat juga menjadi media untuk menanamkan nilai kebaikan (etik) dan nilai keindahan (estetika).
Demikianlah yang dapat paparkan. Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan, sekian dan terima kasih.

Wassalamualaikum wr.wb

Komentar