Langsung ke konten utama

Hermeunitika Hidup dan Metakognisi

Refleksi Kuliah Filsafat Ilmu Pertemuan Ke-10
Selasa, 21 November 2017

Assalamualaikum wr.wb
Tidak terasa bahwa seminggu telah berlalu dan hari ini pun sudah hari selasa kembali. Jika sudah hari selasa maka sudah saatnya kami untuk kuliah filsafat ilmu bersama Pak Marsigit kembali. Seperti hari-hari selasa sebelumnya, hari ini pun perkuliahan diawali dengan tes jawab singkat. Tes jawab singkat hari ini mengenai komponen-komponen filsafat dari hermeunitika hidup.
Hermeunitika Hidup
Hermeunitika di dalam filsafat memiliki makna “terjemah dan diterjemahkan”. Hidup manusia merupakan hermeunitika itu sendiri. Contoh sederhana dari hermeunitika hidup adalah ketika kita sedang berkomunikasi melalui telpon. Saat itu kita yang menerima telpon sedang menerjemahkan maksud, dan perkataan orang yang menelpon, dan diri kita pun sedang diterjermahkan oleh orang yang menelpon. Oleh karena itu hermeunitika sejatinya adalah hidup manusia itu sendiri. Manusia tidak akan bisa hidup jika tidak terjemah dan diterjemahkan.
Karena hermeunitika adalah merupakan salah satu kajian filsafat, maka hermeunitika pun dapat dijelaskan komponen-komponennya secara filsafat. Abstraksi dari hermeneutika adalah siklik dan linear, ada yang melingkar dan ada yang membentuk garis lurus. Lingkaran jika ditarik dengan garis lurus akan membentuk spiral. Spiral itulah yang menggambarkan kehidupan, pergaulan, dan perjalanan hidup manusia. Mengapa siklik? dan mengapa linear? Siklik karena kita akan bertemu dengan hari selasa kembali. Sedangkan linear karena tanggal setiap hari itu terus berbeda, jika terulang pun tetap akan berbeda yaitu minimal beda hari.
Hidup berhermeneutika adalah hidup menterjemahkan dan diterjemahkan. Saling bersilaturahim, saling bergaul, saling berinteraksi adalah contoh hermeneutika di dalam hidup. Idealnya hermeneutika adalah konsep. Ontologi atau hakikat hermeneutika adalah vital (ikhtiar) dan fatal (takdir). Interaksi antara seseorang dengan yang lainnya pasti mengandung ikhtiar dan takdir. Takdir adalah dipilih, misalnya kita diberi kesempatan untuk bertemu. Ikhtiar adalah memilih, misalnya di saat kita berjanji atau menentukan waktu untuk bertemu.
Psikologi dari hermeneutika adalah interaksi. Formalnya hermeneutika adalah aturan sosial. Aturan siswa, aturan murid, hingga peraturan perundang-undangan adalah formalnya hermeneutika. Normatif dari hermeneutika adalah hermeneutika sendiri, yaitu ilmunya.
Ruang dan waktunya hermeneutika adalah menembus ruang dan waktu. Menembus ruang dan waktu artinya adalah bisa dibedakan waktu dan tempatnya. Semua di dalam dunia ini dapat menembus ruang dan waktu, bahkan sebuah batu juga dapat dibedakan menurut waktunya.
Hidupnya hermeneutika adalah harmoni. Harmonis tidak hanya seimbang, melainkan juga menyenangkan dan penuh dengan doa. Makna seimbang tidak langsung dapat dikatakan harmoni, karena harus dibarengi dengan ikhtiar. Sebaliknya, matinya hermeneutika adalah berhenti. Jika kita berhenti berikhtiar, sama saja kita tidak hidup lagi. Takdir dan ikhtiat tidak hanya beriringan, namun juga berhermeneutika. Allah tidak akan mengubah nasib umatnya apabila umatnya tidak berusaha.
Noumenanya hermeneutika adalah noumena. Apriori dari hermeneutika adalah harapan. Setiap kegiatan yang terjadi pasti memiliki harapan dan masa depan. Kemudian aposteriorinya hermeneutika adalah belajar dari pengalaman. Belajar apapun pasti membutuhkan pengalaman. Mempelajari logika, matematika murni, dan lainnya juga berdasarkan pada pengalaman, tidak cukup hanya dengan intuisi.
Analitik hermeneutika adalah konsep-konsep, konsep menuju konsep lainnya. Sintetik dari hermeneutika adalah fenomena-fenomena yang terjadi. Teleologinya hermeneutika adalah peristiwa di waktu yang akan datang. Dalam belajar matematika, guru memfasilitasi pembelajaran dengan mempertimbangkan apa yang akan terjadi di kemudian hari, apakah besok, minggu depan, atau di masa yang akan datang.
Fatalnya hermeneutika adalah dipilih atau terpilih. Contohnya di dalam pembelajaran, jika seorang siswa ditunjuk oleh seorang guru maka itu adalah takdir. Allah menetapkan takdirnya melalui perantara, dalam kasus tadi guru adalah perantara takdir siswa yang dipilih untuk ditunjuk. Sedangkan vitalnya hermeneutika adalah memilih. Kita semua berhak memilih apapun di dalam hidup.
Paralogosnya hermeneutika adalah silaturahim para dewa. Seluruh hal yang tidak menjadi kuasa atau tidak dimengerti adalah paralogos dari hermeneutika. Misalnya pada saat  ini sedang diadakan rapat Presiden RI dengan presiden-presiden negara Asia lainnya, maka seperti itulah silaturahim pada dewa. Kita tidak memahaminya, kita tidak dapat masuk ke dalamnya.
Anomalinya hermeneutika adalah konflik sosial. Konflik sosial bukan berarti hal yang negatif. Dalam filsafat, konflik dapat berarti ilmu di dalam pikiran. Di dalam hati, konflik adalah sebenar-benar godaan setan. Untuk itulah sebagai manusia kita harus selalu meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah agar selalu dijauhi dari konflik hati, yaitu saat setan mulai berani mengusik keimanan kita.
Bahkan Hermeunitika pun ada bahasa jawanya yaitu cokro manggilingan, yang memiliki arti hidup manusia di dunia itu berputar, kadang di atas dan kadang di bawah. Kadang senang dan kadang sedih. Itulah makna hermenutika.
Metakognisi
Setelah membahas mengenai hermeunitika hidup, perkuliahpun dilanjutkan dengan Bapak membahas mengenai metakognisi.
Filsafat adalah olah pikir. Normatifnya berpikir adalah metakognisi. Metakognisi diperkenalkan oleh Aristoteles yang membuat buku-buku fisik terlebih dahulu, lalu kemudian menatap buku-buku yang nonfisik sehingga disebut meta fisik. “Meta” berarti di sebaliknya. Secara filsafat metafisik berarti makna yang sebaliknya, makna yang tersembunyi di belakang apa yang terlihat saja.
Semua objek yang ada dan mungkin ada di dunia ini memiliki metafisik. Metafisik dari meja adalah semua yang ada dan yang mungkin ada. Dari segi ekonomi, meja adalah investasi. Dari suatu perjanjian bisnis, meja adalah tempat menandatangani kesepakatan. Dari segi matematika, meja adalah benda yang berbentuk persegi panjang.
Dalam metakognisi matematika, hakikat belajar matematika merentang dari materi hingga spiritual, masing-masing di bagi ke dalam tingkatan SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi yang kajiannya digarap oleh RME. Learning trajectory bersifat kontinu, yaitu sadar terhadap dimensi dan strukturnya yang berjalan. Semua yang ada dan yang mungkin ada saling ber-trajectory.
Segala sesuatu di dunia ini berdimensi, atau memiliki pasangannya masing-masing. Misalnya saja dari abstraksi hermeneutika yaitu siklik dan linear. Bagi anak kecil, siklik itu bundar, bulat. Bagi orang awam, siklik diartikan sebagai lingkaran. Di level spiritual, siklik juga ditunjukkan dalam bentuk yang berbeda. Sedangkan linear dapat diartikan lurus. Lurus bagi anak kecil, ya lurus saja. Bagi orang jawa lurus adalah lempeng. Lurusnya pembelajaran adalah logikanya, kebenarannya, analitiknya, dan lain-lainnya. Hingga dalam level spiritual lurus adalah mustaqim.
 Lalu apakah yang ada di balik matematika? Kita tidak akan mungkin bisa berpikir meta jika kita tidak paham struktur hakiki hingga struktur formalnya. Hakikat matematika jika diturunkan adalah hakikat konsep filsafat. Jika dinaikkan ke pembelajaran bisa ditelusuri melalui hakikat untuk jenjang tertentu. Misalnya hakikat matematika sekolah dasar yang dilaksanakan melalui empat tahap, yaitu investigasi, penelusuran,  komunikasi, dan pemecahan masalah. Komponen yang paling mendasar dari segala yang ada dan mungkin ada di dunia ini adalah wadah dan isi, dan hal ini pun terjadi di dalam matematika. Matematika mempunyai wadah dan isi, contoh wadah dari matematika adalah seluruh definisi, sedangkan isinya adalah contoh-contoh dari definisi tersebut.
Demikianlah yang dapat saya refleksikan dari perkuliahan filsafat ilmu pertemuan ke 9, pada hari Selasa 21 November 2017.  Saya adalah manusia yang terbatas, tidak pernah akan luput dari salah dan dosa maka mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan, sekian dan terima kasih.

Wassalamualaikum, wr.wb 

Komentar