Refleksi Kuliah Filsafat Ilmu Pertemuan Ke-14
Selasa, 19 Desember 2017
Assalamualaikum wr.wb
Tidak terasa bahwa
perkuliahan filsafat ilmu sudah hamper mendekati akhir zamannya, karena
ternyata hari ini selasa, 19 Desember 2017 adalah perkulihan terakhir dari mata
kuliah filsafat ilmu untuk kami para mahasiswa PPs Penddidikan Matematika Kelas
C. Hari ini pun kuliah Filsafat Ilmu PPs
Pend. Matematika UNY kelas C dilaksanakan di ruang dan waktunya yaitu di ruang 5.01.13
yang terletak di lantai 5 Gedung Pascasarjana baru dan dilaksanakan mulai dari
jam 07.30 WIB hingga 09.10 WIB. Akan tetapi terjadi hal yang berbeda dan
menarik pada hari ini, yaitu Pak Marsigit datang lebih awal daripada kami para
mahasiswa-mahasiswanya. Hal ini merupakan hal yang memalukan bagi saya karena
itu berarti saya datang sangat terlambat, padahal pada pagi itu saya tiba di kelas
sekitar pukul 07.35 an dan pada saat tiba di kelas Pak Marsigit sudah hadir di
kelas bersama dua mahasiswa yang lainnya.
Pagi itu merupakan pagi
yang unik, yang berbeda daripada pagi lainnya, pagi yang sungguh menyenangkan,
pagi yang penuh tawa. Kuliah di pagi ini terasa sangat unik, tiada duanya
karena kuliah filsafat ilmu menjadi kuliah “dari Pak Direktur untuk Pak
Direktur”. Selain itu, kuliah di pagi ini terasa unik juga karena diawali
dengan fenomena Sang Pak Direktur, yaitu Pak Marsigit menjadi seorang satpam
atau penjaga pintu. Hal ini karena pagi itu Pak Marsigit duduk di depan pintu
sehingga mau tidak mau kami yang baru datang dan ingin masuk ke kelas haruslah
melalui penjagaan Bapak dulu, bersalaman dengan beliau terlebih dahulu dan
berbincang dengan beliau karena beliau menanyakan nama dan asal para mahasiswa
yang melalui penjagaan Bapak. Karena pada pagi itu masih banyak mahasiswa yang
belum hadir di kelas waluapun jam sudah menunjukkan waktu 7.35 lebih, maka
perkuliahan pagi itu di awali dengan bincang-bincang bersama Pak Direktur. Kata
Pak Direktur, alias Pak Marsigit orang filsafat itu sarapan paginya bincang-bincang, makan siangnya dialog, makan malamnya kajian,
dan mimpinya refleksi, Oleh karena itu perkuliahan hari ini temanya adalah full of talking alias penuh dengan
bincang-bincang/komunikasi.
Pagi itu yang menjadi
bahan perbincangan Pak Marsigit adalah kisah pengalamannya menjadi seorang
Direktur baru. Bapak mengatakan tugas dari seorang Direktur adalah kompromi,
yaitu mengkonpromikan atau mengkoordinasi para staff-staff dan prodi-prodi yang
ada di pasca sarjana, demi kesuksesan pasca itu sendiri. Jika pasca sukses maka kamu pun sukses. Bapak menceritakan bahwa
mempunyai seorang sekretaris yang bernama mba Tuti dan mba Tuti ini memiliki
peran yang sangat penting, salah satunya adalah menuliskan agenda kegiatan Pak
Marsigit. Beliau berkata jikalau tidak ada catatan agenda ini beliau akan
tersesat karena lupa jadwal kegiatannya atau pun ruang dan waktu pelaksanaan
kegiatan tersebut. Pak Marsigit juga menceritakan bahwa catatan Mba Tuti itu
berfungsi ganda, selain sebagai pengingat jadwat kegiatan, namun juga sebagai
nota dinas. Selain itu juga membagikan pengalamannya yang kini memiliki seorang
driver yang bertugas membantu mengantarkan beliau kemana saja. Dari sepenggal
pengalaman beliau ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa betapa pentingnya
komunikasi, komunikasi bisa antara siapa saja, Tuhan dengan ciptaannya, atasan
dengan bawahannya. Dengan adanya komunikasi maka segalanya menjadi terarah.
Misalnya tadi komunikasi dalam bentuk agenda/pengingat jadwal kegiatan tadi.
Agenda/pengingat itu sangat penting karena dialah yang akan memberikan arah
kita dalam bertindak, bertindak yang sesuai dengan ruang dan waktu. Selain itu
ternyata pengingat juga sangat penting dalam hidup, zaman semakin berkembang
maka agar tidak terperangkap di jebakan Power Now kita memerlukan pengingat
yaitu ilmu dan ibadah, ilmu agar kita mengetahui beribadah serta bertindak yang
sesuai aturanNya, sedangkan beribadah agar kita mampu membentingi diri dari
pengaruh Power Now, menyadari bahwa manusia tidak sempurna, kesempurnaan hanya
milik Tuhan oleh karena itu kita harus hanya bersyukur, bertawakal, den berdoa,
dan berikhtiar kepadaNya.
Selanjutnya Pak Marsigit
juga menceritakan pengalamannya yang sudah menandatangi cek untuk biaya
operasional hingga 3 kali dan menceritakan bahwa pasca mengalami defisit hingga
2 milyar, hal ini dikarenakan walaupun jumlah mahasiswa pascasarjana lebih
sedikit dari faklutas lain akan tetapi jumlah prodi yang harus di
operasionalkan paling banyak, yaitu 37 prodi. Selain itu, Bapak juga
menceritakan pengalamannya yang berkunjung ke prodi-prodi lain dan salah satu yang dikunjungi oleh Bapak adalah
kantor koordinasi jurnal. Koordinasi jurnal saat ini sudah dibagi 2 tugasnya
yaitu koordinasi jurnal dan koordinasi publikasi. Sehingga ada dua koordinator
disana, dan yang betugas sebagai koordinator publikasi, yang nantinya akan
memberikan rekomendasi apakah syarat publikasi kita terpenuhi atau tidak, yang
memberikan rekomendasi apakah kita mahasiswa pasca dapat mengikuti yudisium
atau tidak, adalah Pak Adam. Pak Adam ini tidak berkerja sendirian sebagai
koordinator publikasi, Pak Adam juga memiliki yaitu Pak Tutut. Pak Tutut ini
adalah dosen part time dari Malaysia yang sudah diperkerjakan selama 2 bulan
sebagai konsultan publikasi mahasiswa, yang membantu dalam hal publikasi
mahasiswa. Pak Tutut ini walau dia dari Malaysia namun beliau adalah orang
Indonesia sehinggga dapat berbicara Indonesia dan Pak Tutut ini biasanya berada
di lantai 4 gedung pascasarjana. Akan tetapi sayang beribu sayang masih sedikit
mahasiswa yang memanfaatkan jasa Pak Tutut ini, padahal Pak Tutut ini akan
membantu mahasiswa dalam hal bagaimana mengirimkan publikasi mereka.
Selain itu Pak Marsigit
juga menyarankan kepada kami agar semester 1 ini kami haru sudah memiliki
judul, dan akhir semester 2 sudah mebuat artikel. Artikel tersebut dapat
berkaitan dengan tesis ataupun tidak, dapat dilakukan secara mandiri atau
bekerjasama dengan pembimbing, dan artikel tersebut dapat dibuat berdasarkan
pra penelitian/survei, lalu kemudian kami juga harus mencari informasi mengenai
seminar-seminar internasional. Dari sepenggal cerita ini pun ada yang bisa
ambil ilmunya, mengutip dari pembicaraan Pak Marsigit ketika perkuliahan “sebenar-benar diri kita adalah diri kita
sendiri, tidak ada orang mampu, kecuali kita pintar, meminta bantuan,…”.
Yang
menentukan bagaimana diri kita, ilmu kita, hidup kita selain takdir Tuhan,
adalah ikhtiar kita sendiri. Kita akan mampu memperoleh ilmu, pengetahuan jika
kita berusaha belajar, membaca, berpikir mulai dari kita sendiri. Begitu pula
dalam hal tugas akhir dan publikasi ilmiah, yang akan menentukan kita akan
lulus atau tidak pun akan dimulai dari diri kita sendiri, seberapa banyak
persiapan/antisipasi, usaha dan doa yang telah kita lakukan. Jika ada
kebingungan atau kesulitan yang kita alami maka kita harus berusaha dengan
berkomunikasi dengan orang lain, misalnya saja ketika kita kesulitan mencari
referensi maka komunikasikan dengan pembimbing
bukannya malah menghilang/terperangkap dalam kesulitan itu, sehingga
pembimbing bisa memberikan saran bagaimana menemukan referensinya karena bisa
saja teori yang dicari itu memang tidak ada dibuku secara langsung melainkan
harus dibreakdown dulu menjadi aspeknya kemudian menjadi paradigmanya.
Selanjutnya, Pak Marsigit
membahas mengenai rasa syukur, bersyukur merupakan salah satu bentuk
komunikasi/bincang-bincang kita dengan Sang Pencipta, “sebenar-benar manusia hidup adalah bersyukur” begitu kata beliau.
Semua yang ada didunia ini adalah bersyukur. Bersyukur karena sudah diberikan
kesehatan, memiliki orang tua, keluarga yang sehat, diberi rezeki, hidayah,
masih bisa bermanfaat bagi orang lain dan sebagainya. Bersyukur itu mudah diucapkan akan tetapi
sulit dilakukan karena hidup itu sepenuhnya melakukan bersyukur, bersyukur itu
tidak ada putusnya, dia itu bersifat continue, sebagai contohnya ketika kita
berucap syukur, belum selesai kita mengucapkan syukur kita harus sudah
memperbaharui rasa syukur kita itu.
Lebih lanjut Pak Marsigit
juga berbincang-bincnag mengenai manfaat dari bincang-bincang atau komunikasi
itu sendiri. Perspektif dari komunikasi itu ada dua yaitu komunikasi intensif
(yaitu sedalam-dalamnya) dan ekstensif(seluas-luasnya). Pak Marsigit selaku
Sang Direktur memiliki perspektif komunikasi intensif karena beliau lebih paham
tentang prodi matematika dan memiliki perspektif komunikasi ekstensif yaitu
karena beliau memiliki pengetahuan yang bertambah mengenai prodi-prodi lain.
Komunikasi ini dapat menghindari kita dari stigma jelek. Misalnya Bapak
mengadakan acara syukuran, dengan acara syukuran itu Bapak akan secara tidak
langsung berkomunikasi atau bersilahturahmi dengan tetangganya, staff-staffnya,
dengan dosen-dosen lain, dengan rector dan sebagainya memperlihatkan bagaimana
kehidupan beliau di rumah sehingga tidak akan muncul stigma bahwa karena
menjadi direktur rumahnya menjadi 6 lantai. Begitu bermanfaat sekali komunikasi
itu dalam hidup kita. Berkomunikasi dengan Tuhan yaitu melalui ibadah dan doa
sangat penting agar diri kita terhindar dari sikap sombong dan berkomunikasi
dengan orang lain/sesama penting karena selain sebagai sarana silahturahmi
juga, dapat menjadi sarana kita untuk memperoleh ilmu, serta menghindari dari
stigma jelek.
Pagi itu Pak Marsigit
juga berbincang mengenai Hidup di Bumi dikelilingin oleh para saksi. Pak
Marsigit berkata bahwa “Direktur itu bukan mitos, karena dengan logos bisa
direktur itu bisa dijelaskan sampai akal dan pikiran”. Tidak perlu membuat-buat
image sebagai direktur karena semua yang ada didunia ini sebenarnya adalah yang
menjadi saksi bagaimana image kita tersebut.
Sebagai contoh ketika sedang mencoret-coret tembok maka tembok itu telah
menjadi saksi bahwa image kita jelek. Semua yang ada dan mungkin ada didunia
itu telah menjadi saksi kehidupan kita. Papan tulis telah menjadi saksi
kehidupan kita. Ketika pagi ini Pak Marsigit berbicara di kuliah ini, meja pun
telah menjadi saksi, merekam segala pembicaraan Bapak, sehingga 50 tahun akan
datang dengan menggunakan teknologi yang sangat canggih, diambil frekuensinya
mungkin akan terdengar suara serak-serak basah miliknya Pak Marsigit. Dari
pembicaraan ini ada ilmu juga yang dapat kita ambil yaitu bahwa sesungguhnya
kehidupan kita didunia dikelilingi oleh saksi. Walaupun tidak ada orang lain
yang melihat/menyaksikan jika kita berimage/berbuat buruk maka tetap berimage
buruk lah kita dihadapan Tuhan, karena tetap saja ada yang menyaksikan kita
berbuat buruk yaitu Tuhan YME, rumput yang bergoyang, tembok, tanah, pohon, dan
sebagainya. Oleh karena itu janganlah kita hanya mengadakan dan menjaga image
ketika disaksikan oleh orang lain saja karena image yang sesungguhnya terpancar
dari hati, pikiran, dan perbuatan kita ketika dimanapun, dan kapanpun.
“Orang tua adalah orang
yang banyak pengalaman” Oleh karena itu pagi ini perbincangan dilanjutkan
dengan pengalaman Bapak ketika minggu lalu mengikuti seminar nasional yang
dilaksanakan disebuah universitas di Yogyakarta. Seminar tersebut membahas mengenai
etnomatematika dan dalam seminar itu ada 3 orang pembicara utama, yang
masing-masing memiliki peforma, kinerja, ilmu dan nuansa yang berbeda-beda.
Ketiga pembicara utama itu antara lain Pak Marsigit, dan dua orang dosen
lainnya. Berdasarkan penuturan Pak Marsigit, dosen yang pertama memiliki
pengetahuan tentang etnomatematika yang tajam dan memiliki banyak pengalaman
dibidang tersebut. Akan tetapi untuk dosen yang satunya lagi, nada-nadanya
etnomatematika adalah hal yang baru baginya, hal itu terlihat dari isi
pembicaraan atau kajian yang disampaikan oleh beliau. Dosen tersebut walau
mengaku berkecimpung di dunia pendidikan namun pengalaman dan paradigmanya
adalah pure mathematics, paradigma yang sangat keras dan tidak cocok bagi
anak-anak
Padahal Etnomatematika
adalah wilayah dasar/bawah, wilayahnya rakyat, yang etnik, realita, konkret dan
kontektual. Karena etnomatematika itu wilayahnya yang realita, konkret dan
kontekstual maka ini juga wilayah anak-anak maka yang diperlukan disini adalah
innovator, para pengembang pendidikan bukan yang pure matematisism, yang
berparadigma matematika itu dipelajari melalui definisi, teorema, rumus.
Padahal definisi secara filsafat dianggap pagar yang membatasi ruang gerak kita
dan hal inipun tidak cocok dengan paradigma pendidikan saat ini yang bersifat
student centered. Dalam kehidupan sehari-hari juga definisi atau pagar itu
hanya membatasi ruang gerak saja namun tidak ada gunanya karena walaupun kita
membuat pagar 4 m tapi tetap saja seekor kucing bahkan seorang maling pun
dengan tekat yang kuat masih bisa melompatinya, dan karena itu pagar yang baik
dalam kehidupan adalah hubungan baik dengan tetangga.
Kemudian perbincangan di
pagi itu juga dilanjutkan oleh Pak Marsigit dengan membahas paradigma
pendidikan saat ini. Dalam seminar minggu lalu yang diikuti oleh Pak Marsigit
ada mahasiswa yang bertanya mengenai cara agar siswa mampu mengejar materi. “siswa
tidak akan pernah bisa mengejar materi, karena paradigma kurikulum saat ini
bukanlah untuk kejar mengejar, senggol menyenggol, dan sundul menyundul materi.
Paradigma kurikulum seperti itu sudah kuno, adanya pada zaman Belanda, adanya
ketika zaman Pithecantropus, masa kurikulum seperti itu bangkit kembali” begitu
jawaban Pak Marsigit. Paradigma Pendidikan saat ini adalah riset, yang dituntut
saat ini adalah barangnya bukan lagi sebatas kemampuan saja. Pak Marsigit
menuturkan bahwa secara filsafat, saat ini yang dituntut itu adalah ada,
pengada, dan mengada. Materi pembalajaran hanya sebatas ada saja. Kurikulum
bukan lagi sebatas siswa mampu ini, siswa
mampu itu (seperti yang tercantum dalam KBK), melainkan sudah kepada
produknya, hasilnya, karyanya. Karya merupakan hasil dari kita mengadakan, dan
dengan mengadakan ini maka keberadaan kita di dunia ini akan diakui. Sebagai
contohnya saat ini tujuan akhir dari kuliah adalah produk, karya, atau
jurnalnya bukan lagi sebatas mahasiswa mampu membuat jurnal saja.
Topik perbincangan Pak
Marsigit yang terakhir adalah mengenai siapakah Sang Semar itu sebenarnya?. Pak
Marsigit mengatakan bahwa menurut ajaran sunan kalijaga sebenar-benar Semar adalah ilmu. Semar berasal dari kata Samar,
maka hal ini berarti Kyai Semar adalah Kyai Tersamar. Sehingga sebenar-benar ilmu itu tersamar dan
tersembunyi, dan karenanya kita perlu mencarinya. Dampak dari segala ini
adalah muncullah anggapan bahwa sesungguhnya semar itu adalah Pak Marsigit,
karena nama beliau berasal dari kata “Mar” yang berarti tersamar/ilmu dan
“Sigit” yang berarti handsome sehingga Pak Marsigit adalah “seorang handsome
yang sedang mencari ilmu”.
Kemudian, Semar memiliki
3 orang anak yaitu Gareng, Petruk dan Bagong. Dari kata Gareng muncullah kata
Garing, dan kemudian muncullah kata Kering. Dari kata kering itu kemudian muncullah
kata nolo atau hati, sehingga Nolo Gareng itu berarti mengeringkan hati.
Implikasi Nolo Gareng ini dalam kehidupan sehari-hari yaitu kita perlu
mengeringkan hati atau dengan kata lain menjernihkan hati, membersihkan hati,
hati yang full of doa dalam memperoleh ilmu, karena setingi-tinggi ilmu tidak ada gunanya jika tidak berkah. Semar tadi
adalah ilmu maka ilmu yang tidak berkah, yang tidak diperoleh sesuai dengan
ruang dan waktunya, tanpa ridho restu Tuhan YME dan orang tua tidak akan
menjadi manfaat bagi kita sendiri maupun orang lain.
Anak kedua dari Semar
adalah Petruk. Dari kata Petruk muncullah kata Patra yang berarti perbuatan.
Implikasi Petruk dalam kehidupan sehari-hari terlihat dalam Tridarma Perguruan
Tinggi. Tridarma Perguruan Tinggi itu sendiri terdiri dari Pendidikan, Penelitian
dan Pengabdian Kepada Masyarakat. Sehingga kita sebagai mahasiswa harus
mengabdi/berbuat berdasarkan Tridharma Perguruan namun sesuai dengan
konteksnya.
Anak ketiga dan terakhir
dari Semar adalah Bagong. Bagong ini memiliki arti yaitu sebagai ayang-ayang
atau bayang-bayang dari kenyataan atau realita. Implikasi dalam kehidupan
sehari-harinya adalah dalam sukmo sejati. Sukmo sejati adalah sukma, jiwa atau
arwah kita masing-masing. Sukmo Sejati ini sangat penting karena ia yang
menjadi bukti bahwa kita itu masih hidup.
Kita dalam hidup itu
harus memiliki keempat makna ini, yaitu mempunyai ilmunya Semar, nuraninya Gareng, perbuatannya Petruk, dan sesuai dengan
kenyataannya Bagong. Artinya adalah dalam memperoleh ilmu kita harus
disertai dengan hati nurani yang bersih, kemudian ilmu yang sudah kita miliki
itu juga harus bisa diterapkan atau dilaksanakan sesuai dengan konteksnya, dan
ilmu yang kita miliki itu juga harus sesuai dengan kenyataan juga jangan hanya
berdasar pemikiran saja (sesuai dengan teori Immanuel Kant yang mengatakan
bahwa sebenar-benar ilmu adalah sintetik a priori).
Implikasi lebih lanjut
dari makna Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong dalam kehidupan sehari-hari adalah
sebenar-benar Arjuna dan Wonokawanya
adalah diriku, dan dirimu, dirimu itu. Sehingga Semar itu sesungguhnya
adalah diri kita semuanya. Sehingga, kata Pak Marsigit “Semarnya bukan hanya
satu, bukan hanya Pak Marsigit”. Kita-kita mahasiswa pascasarjana ini adalah
Semar sehingga pascasarjana itu seperti gunung tempat tinggalnya para semar
(sewu semar). Kesimpulan dari topik pembicaraan mengenai siapakah sebenarnya
sang semar itu adalah bahwa hidup kita pada akhirnya kembali bergantung pada
diri kita sendiri, bergantung dari bagaimana ikhtiar kita dalam membangun
kehidupan kita masing-masing.
Seperti itulah
bincang-bincang kami bersama Sang Direktur Pascasarjana, Pak Marsigit. begitu
banyak ilmu yang kami peroleh dari hanya sekedar bincang-bincang. Sehingga
bincang-bincang pun dapat menjadi awal membuka pintu ilmu. Dan sebagai penutup Pak
Marsigit mengingatkan kepada kami untuk segera berkomunikasi, segera
berbincang-bincang dengan bapak di ruangannya jika menemui
permasalahan-permasalahan dalam perkuliahan.
Demikianlah yang dapat
saya refleksikan dari perkuliahan filsafat ilmu pertemuan 14, Hari Selasa, 19
Desember 2017. Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan, sekian dan
terima kasih.
Wassalamualaikum, wr.wb
Komentar
Posting Komentar