Refleksi Kuliah Filsafat Ilmu Pertemuan Ke-10
Selasa, 28 November 2017
Assalamualaikum wr.wb
Pada hari ini Selasa 28
November 2017 ada yang berbeda dari kuliah filsafat, yaitu tidak adanya sesi
tanya. Hari itu perkuliahan menggunakan media LCD. Pada perkuliahan filsafat
kali ini membahas mengenai blog pembelajarannya beserta komen-komen yang kami
buat. Kemudian secara garis besar perkuliahan filsafat hari itu membahas
mengenai bagaimana secara filsafat matematika sekolah itu.
Matematika terbagi menjadi 2 yaitu matematika abstrak
dan matematika murni. Karena secara filsafat, yang abstrak itu ada di
langit/pikiran maka matematika abstrak adalah matematika
formal untuk tingkatan atas atau
setara mahasiswa atau
matematikanya orang dewasa. Sedangkan karena secara
filsafat, yang konkret itu ada di bumi/kenyataan, maka
matematika konkret adalah matematika formal untuk
tingkatan bawah atau untuk anak SD.
Dikarenakan matematika abstrak ada di langit,
sedangkan matematika konkret ada di bumi maka terdapat jarak di antara
keduannya. Sehingga jika kita ingin mampu memahami matematika secara
kesulurahan kita harus menembus jarak/tangga pemisah itu.
Matematika
di Indonesia menganut sistem gunung atau iceberg
yang secara kiasan dapat diartikan sebagai seseorang yang terus belajar
untuk memperkokoh, memperkuat, dan memberdayakan potensinya.
Ide-ide mengenai gagasan telah berkembang pesat sejak
zaman Yunani Kuno. Secara filsafat, gagasan terbagi menjadi dua yaitu
gagasan yang bersifat logis
dan tidak logis. Gagasan yang
bersifat logis akan menjadi logos atau akan menjadi ilmu. Sedangkan gagasan
yang bersifat tidak logis akan menjadi mitos.
Mitos
dan mistik dapat diatasi oleh Thales. Aliran matematika Thales, Phytagoras, dan
Plato adalah aliran matematika yang bersifat
idealis dan terjadi
hanya di pikiran saja. Aliran ini berpendapat bahwa matematika itu terdiri
dari dalil, teorema, prinsip, aturan, definisi, dan sebagainya. Akan tetapi kemudin muncul Aristoteles, ia
membantah semua aliran
tersebut berdasarkan pemahamannya yang mempercayai ilmu adalah segala sesuatu
yang konkret .
Perbedaan pendapat antara Thales dan Aristoteles ini
kemudian munculnya dua kubu dalam ilmu matematika yaitu kubu langit/pikiran dan
kubu bumi/pengalaman. Kubu langit ini saat ini diwakili oleh
matematika murni, dimana matematika
hanya diajarkan melalui
definisi, prinsip, aksioma dan unsur lainnya yang berada di dalam pikiran dan sehingga ditujukan untuk tingkatan
universitas. Sedangkan kubu bumi saat
ini diwakili oleh matematika konkret/matematika sekolah, dimana matematika
diajarkan melaui pengalaman/aktivitas.
Dari uraian singkat di atas maka seharusnya paradigma
yang digunakan dalam pendidikan matematika sekolah adalah paradigmanya
Aristotelian. Namun apa yang terjadi? Saat ini Pendidikan Matematika
Indonesia masih belum mampu melaksanakan
pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas siswa. Padahal di dalam seperti
dalam peta pendidikan dunia yang ada di blog Pak Marsigit, Pendidikan seperti itu
sesuai dengn ideologi bangsa Indonesia yaitu Demokrasi. Namun hal itu tidak
terjadi pada kenyataannya, hal ini disebabkan oleh kurikulum yang menjadi
pendoman pendidikan dibuat oleh ahli matematika murni, padahal yang pembelajaran matematika dimulai
dari tingkat SD. Sehingga dengan
kata lain kurikulum menjadi ambisi logika sehingga
tidak mempertimbangkan kesulitan siswa yang pemikirannya masih belum memahami
matematika abstrak.
Secara
umum, konsep-konsep pengetahuan dapat diterapkan di dalam matematika dan
psikologi. Bagaimana seseorang dapat memikirkan sebuah fenomena sehingga muncul
persepsi melalui panca indera dari seseorang terhadap fenomena tersebut. Awal
dari persepsi adalah melihat dengan kesadaran. Vision atau melihat menghasilkan imajinasi. Dari satu gambar, dapat
dibuat miliaran caption hanya dengan
melihat dari beberapa sudut pandang. Hasil dari melihat ditambah imajinasi akan
menjadi persepsi. Semakin besar kesadaran kita dalam memperhatikan sesuatu,
maka semakin jelas pula persepsi yang kita dapatkan.
Perhatian,
intensif, dan kepedulian adalah hal yang paling penting dalam memahami suatu
fenomonologi. Di dalam pembelajaran, interaksi antara guru dan murid akan memberikan
hasil yang positif apabila keduanya saling memperhatikan dan saling peduli.
Apabila salah satunya tidak memperhatikan dengan baik.
Demikianlah yang
dapat saya paparkan mengenai perkembangan singkat
matematika dari dulu hingga kini. Matematika saat ini merupakan hasil pemikiran
para filsuf di zaman Yunani Kuno. Para filsuf itu telah membedakan matematika
untuk orang dewasa dan anak-anak, namun saat ini pemikiran tersebut seakan
diabaikan. Pendidikan matematika Indonesia saat ini hanya dikuasai oleh ahli
matematika murni, maka tidak heranlah jika pendidikan matematika Indonesia
belum mampu terlaksana dengan optimal
Karena saya adalah
manusia yang terbatas, yang tidak bisa luput dari salah dan dosa maka mohon
maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan,
sekian dan terima kasih.
Wassalamualaikum, wr.wb
Komentar
Posting Komentar