Langsung ke konten utama

Kedudukannya Sang Objek Pikir

 Refleksi Kuliah Filsafat Ilmu Pertemuan Ke-7
Selasa, 31 Oktober 2017


Assalamualaikum wr.wb
Pada Hari ini Selasa, 31 Oktober 2017 perkuliahan Filsafat Ilmu di PPs Pend. Matematika UNY kelas C seperti biasa dilaksanakan di ruang dan waktu yang sudah jelas yaitu di ruang 5.01.13 yang terletak di lantai 5 Gedung Pascasarjana baru dan dilaksanakan mulai dari jam 07.30 WIB hingga 09.10 WIB. Perkuliahan hari ini diawali dengan Pak Marsigit mengucapkan salam dan berdoa kemudian selanjutnya memberikan tes jawab singkat.
Tes jawab singkat pada hari ini berkaitan dengan kedudukan objek pikir. Akan tetapi dari 25 pertanyaan tersebut saya hanya berhasil memperoleh nilai 4 atau dengan kata lain saya hanya berhasil menjawab 1 soal dengan tepat. Hal ini berarti hari ini saya masih belum berhasil memperpendek jarak saya dengan Pak Marsigit. Jaraknya masih sangat jauh yaitu masih 96 poin. Pak Marsigit mengatakan bahwa fungsi dari tes jawab singkat atau pertanyaan-pertanyaan ini adalah untuk mengadakan yang ada dan mungkin ada. Untuk memjawab tes jawab singkat ini dengan benar yang kita perlukan adalah kreativitas dalam berpikir. Hal ini dikarenakan jika hanya mengandalkan membaca saja maka belum tentu kita mampu menjawabnya. Begitu juga jika kita hanya mengandalkan catatan dan hapalan hal yang sama pun akan terjadi yaitu kita belum mampu menjawabnya. Ini karena semua ilmu ini tidak ada di buku melainkan ada pikiran sehingga untuk menjawabnya kreativitaslah yang diperlukan.

Kedudukan Titik dan Bilangan
Semua yang ada dan mungkin ada adalah objek pikir manusia. Dan objek pikir manusia yang rendah kedudukannnya adalah titik. Titik adalah hasil abstraksi dan karena titik itu merupakan objek/benda pikir maka dia tidak punya tebal dan tinggi. Titik itu ada karena tinta dari pensil ataupun pulpen atau dengan kata lain titik yang kita ketahui adalah bayangan dari titik. Titik yang kita buat di papan tulis saja merupakan bayangan dari titik. Hal ini dikarenakan sifat titik yang sebenarnya adalah objek pikir yang tidak mempunyai tebal namun tetap mempunyai sifat. Orang matematika tidak akan paham mengenai komponen dari titik ini, hanya melalui filsafatlah baru kita bisa memahaminya. Semua komponen dari yang ada dan mungkin ada adalah wadah dan isi, maka titik pun memiliki wadah dan isi. Sehingga jika titik diabstraksi maka pada akhirnya yang tersisa hanyalah wadah dan isi.
Titik merupakan komponen yang ada dan mungkin ada karena kita bisa membuat/mengadakan titik A dan B yang berbeda dan selanjutnya membuat garis yang melalui kedua titik tersebut. Adanya 2 buah titik ini menunjukkan ruang dan waktu. Hal ini karena semua yang ada di Bumi terikat oleh ruang dan waktu. Titik menunjukkan ruang karena bisa kita lihat atau titik yang kita gambar itu menunjukkan ruang, sedangkan menunjukkan waktu karena titik yang kita buat tadi menunjukkan waktu atau kapannya, misalnya titik yang sekarang/tadi/kemarin.
Pada bagian awal tadi disebutkan bahwa titik adalah objek pikir, akan tetapi titik yang digunakan oleh anak kecil adalah titik yang digambar, yang merupakan benda konkret atau yang ada di bumi. Hal ini lah menjadi kesulitan belajar matematika bagi anak kecil, karena jika ada masalah “diketahui dua buah titik yang berbeda, yaitu titik A dan B” maka itu artinya si anak sedang memasukkan unsur ruang dan waktu ke dalam tempat yang bebas ruang dan waktu (pikiran). Akan tetapi karena adanya titik yang digambar, yang tadi telah disebutkan adalah bayangan maka di pikiran kita mampu memikirkan 2 buah titik yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa yang selama ini kita pikirkan adalah bayangan yang ada di Bumi, yang terikat oleh ruang dan waktu.
Kemudian muncullah pertanyaan apa yang akan terjadi jika titik itu tidak terikat oleh ruang waktu?. Jawabannya adalah jika titik itu tidak terikat oleh ruang dan waktu maka kita tidak bisa memikirkan 2 buah titik yang berbeda dan tidak bisa membuat garis yang melalui kedua titik tersebut, di pikiran hanya ada 1 buah titik, sehingga titik A,B, dan C adalah titik yang sama. Oleh karena itu, perlunya pertolongan dari bayangan yang ada di Bumi, yang terikat oleh ruang dan waktu. Sehingga titik di dalam pikiran harus terikat oleh ruang dan waktu.
Selanjutnya, jika titik itu harus terikat oleh ruang dan waktu lalu bagaimana dengan fenomena 2 = 2 dan 2 ≠ 2???. Fenomena 2 = 2 hanya terjadi di pikiran sehingga ini berrati 2 di pikiran itu tidak terikat oleh ruang dan waktu. Sedangkan 2 ≠ 2 terjadinya di Bumi atau kenyataan, bisa saja 2 yang kiri terbuat dari karton dan 2 yang kanan terbuat dari triplek. Material atau fisiknya dari 2 di bumi itu ada atau dengan kata lain bisa diukur dan dilihat. Sehingga di Bumi 2 itu terikat oleh ruang dan waktu dan karenanya dapat dibedakan antara 2a dan 2b.
Telah diketahui bahwa contoh dari objek pikir adalah bilangan dan titik, akan tetapi. walaupun angka 2 dan titik sama-sama dipikirkan namun mereka memiliki kedudukan yang berbeda. Di dalam pikiran struktur geometri (titik, garis dan bidang) ternyata memiliki tingkatan yang lebih rendah dibandingkan dengan struktur aritmatika (bilangan). Hal ini karena bilangan 2 di pikiran tidak terikat oleh ruang dan waktu, bilangan 2 dipikiran hanya ada satu, dia tidak bisa dibedakan antara 2 yang pertama dan 2 yang kedua, untuk memikirkannya tidak memerlukan bayangan. Sedangkan titik walau sama-sama objek pikir namun masih terikat oleh ruang dan waktu, dipikiran harus bisa dibedakan antara titik A dan titik B, sehingga titik memerlukan bayangan dari kenyataan/bumi. Hal ini berarti bilangan merupakan objek pikir yang lebih abstrak daripada titik sehingga bilangan (aritmatika) memiliki tingkatan yang lebih tinggi. Arimatika pun di pikiran masih memiliki kedudukan yang berbeda-beda lagi, yaitu kedudukan bilangan imajiner lebih tinggi daripada bilangan rasional dan bilangan bulat, kemudian kedudukan bilangan rasional juga lebih tinggi daripada bilangan bulat.

Kedudukan Abstraksi dan Reduksi
Di dalam filsafat ada istilah abstraksi dan reduksi. Kedua istilah ini memiliki pengertian yang sama, hanya tinggal yang mana yang lebih sempit, lebih luas, dan yang mana yang lebih duluan. Suatu objek pikir jika memiliki abstaksi dan ideal yang sama maka dia memiliki kedudukan yang lebih tinggi.
Reduksi memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada memilih dan dipilih, walaupun sebenarnya memilih adalah reduksi, dan dipilih juga merupakan reduksi. Yang membedakan reduksi dengan memilih dan dipilih adalah ilmunya, jika memilih dan dipilih adalah jawaban orang awam maka reduksi adalah filsafatnya atau notion umumnya. Reduksi memiliki kedudukan yang lebih tinggi karena reduksi terbagi atas memilih dan dipilih, maka ini berarti dalam prinsip filsafat objek pikir yang di breakdown memiliki kedudukan yang lebih tinggi.

Kedudukan Wadah dan Isi
“Setinggi-tingginya kedudukan komponen yang ada dan mungkin ada komponen dasarnya adalah wadah dan isi.” Wadah bisa diumpakan sebagai takdirnya dan Isi dapat diumpakan sebagai ikhtiarnya, sehingga Tuhan menciptakan manusia secara filsafat itu terdiri dari wadah dan isi. Fisik atau semua yang dapat terlihat itu adalah wadah manusia sedangkan yang tidak terlihat seperti jiwa, roh dan semangat itu adalah isi manusia. Sehingga kedudukan wadah lebih tinggi daripada isi. Akan tetapi apabila terjadi proses wadah berisi, dan maka kemudian isi itu menjadi wadah bagi isi didalamnya, begitu terus menerus, sehingga terjadi proses wadah berisi terus menerus dan hal ini disebut Infinite Regress.
Sebagai contohnya, Ketika tangan memegang HP, maka tangan adalah wadah bagi HP, kemudia HP itu sendiri menjadi wadah bagi program-program didalamnya, kemudian program-progam itu juga menjadi wadah bagi kontak, sms, foto, dan lain-lain, sehingga fenomena wadah berisi pun akan berulang dan tidak ada habisnya inilah yang disebut infinite regress.

Kedudukan Ideal dan Absolut
Arti ideal secara filsafat tidak hanya sekedar sempurna, namun diatasnya lagi, dan karena di dunia tidak ada yang sempurna maka yang paling sempurna dari yang sempurna (idealnya ideal) hanyalah kuasa tuhan.
Ideal jika di abstraksi maka akan ditemukan absolut karena ideal tidaklah berlaku universal, bisa ada ideal disana dan ideal disini dan komponen yang merangkum semuanya adalah absolut. Dan absolut jika diekstrak atau diabstraksi lagi maka yang akan ditemukan adalah kuasa tuhan. Sehingga kedudukan kuasa tuhan lebih tinggi daripada ideal dan absolut dan ketika sudah sampai kuasa tuhan tidak usah dipikirkan lagi.

Kedudukan Metafisik
Metafisik secara filsafat adalah esensi di sebaliknya. Akan tetapi semua esensi sebaliknya pada akhirnya kembali pada kuasa tuhan sehingga kuasa tuhan pun memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada metafisik. Atau dengan kata lain kuasa tuhan merupakan objek pikir yang paling tinggi kedudukannya. Dan karena jika sudah sampai pada kuasa tuhan kita tidka usah memikirkannya maka filsafat yang artinya olah pikir ini, merupakan seberapa jauh kita mampu memikirkan dari sini sampai ke kuasa tuhan.

Kedudukan dalam Berpikir
Berpikir dalam filsafat itu adalah direduksi dan diekstensi. Di dalam berpikir ada awal zaman dan akhir zamannya, sebagai contohnya kuliah ini awal zamanya adalah ketika Pak Marsigit membukanya dengan salam dan doa, dan akhir zamannya adalah ketika Pak Marsigit menutup perkuliahan hari ini dengan membaca hamdalah.
Di dalam berpikir yang memiliki kedudukan paling tinggi adalah mengambil keputusan, hal ini karena mengambil keputusan itu diawali dengan kesadaran dan kesadaran itu berasal persepsi (dari indera) dan logika/nalar. Kesadaran itu kemudian bertingkat-tingkat hingga terjadi kategori-kategori yaitu kuantitas, kualitas, dan modalitas.


Setelah membahas kedudukan objek pikir, perkuliahan juga dilanjutkan dengan menjawab pertanyaan dari mahasiswa dan mahasiswa yang trepilih dan dipilih oleh Pak Marsigit adalah saudari Nurika. Pernyataan dari saudari Nurika adalah bagaimana mempelajari konsep sedekah dalam matematika, karena jika dalam matematika semakin dikurangi materinya maka semakin habis, akan tetapi dalam sedekah semakin banyak materi yang disedekahkan maka semakin bertambah pahalanya. Jawaban Pak Marsigit adalah manusia itu terbatas sehingga banyak hukum sebab-akibat atau hukum alam yang tidak bisa kita pahami. Semua hukum itu hanya milik kuasa tuhan dan manusia  sebagai makhluk ciptaannya hanya bisa mengenali atau memahami sebagian hukumnya saja. Sebagai contoh, kita tidak bisa menentukan kemana arah alam semesta ini bergerak dan berputar.
Menurut kuasa tuhan adalah orang berbuat baik maka akan dibalas dengan kebaikan. Akan tetapi itu bukanlah hukum matematika karena jika hukum matematika maka kebaikan A akan dibalas dengan kebaikan B, karena bukan seperti itu hukumnya kuasa tuhan. Manusia diciptakan oleh Tuhan seperti mesin yang harus bergerak untuk menembus ruang dan waktu. Akan tetapi bukan hanya manusia saja yang menembus ruang dan waktu, batu pun bergerak menembus ruang dan waktu, hal ini karena batu memiliki produk yaitu pasir, batu yang leih besar ataupun bangunan. Prinsip sedekah itu adalah sedang memasukkan unsur ke dalam mesin tadi dan itu kemudian memproduksi sedekah dengan pikiran positif dan doa. Hanya sebatas itulah hukum yang dapat dipikirkan atau dipahami oleh manusia.
Sekian yang dapat saya refleksikan dari perkuliah filsafat ilmu pada hari Selasa, 31 Oktober 2017. Mohon maaf jika ada salah-salah kata dan ada kata-kata yang kurang berkenan. Sekian dan terima kasih.

Wassalamualaikum, wr.wb 

Komentar