Refleksi Kuliah Filsafat Ilmu Pertemuan Ke-6
Selasa, 24 Oktober 2017
Assalamualaikum wr.wb
Setelah dua hari selasa
berturut-turut Pak Marsigit menggunakan metode eksplorasi dalam perkuliahan
Filsafat Ilmu yaitu menjelaskan mengenai Narasi Besar Dunia, minggu ini
perkuliahan filsafat kembali menggunakan metode bertanya. Pada Hari Selasa, 24
Oktober 2017 perkuliahan Filsafat Ilmu di PPs Pend. Matematika UNY kelas C dilaksanakan
di ruang dan waktu yang tepat yaitu di ruang 5.01.13 yang terletak di lantai 5
Gedung Pascasarjana baru dan dilaksanakan mulai dari jam 07.30 WIB hingga 09.10
WIB.
Perkuliahan hari ini
dimulai dengan Pak Marsigit mengucapkan salam dan berdoa kemudian memberikan
tes jawab singkat. Akan tetapi sebelum memberikan tes jawab singkat Pak
Marsigit memberikan pengantar, yaitu mengingkatkan kami bahwa walau kami baru
semester 1 kami harus sudah memiliki stock file artikel dalam bahasa inggris
karena syarat untuk yudisium adalah sudah publish artikel di jurnak
internasional atau prosiding seminar internasional terindeks scopus. Bapak
membagikan cerita dan pengalamannya mengenai masa perkuliahan beliau yang
memerlukan waktu 3 tahun untuk artikelnya publis di jurnal internasional di
Turki. Pak Marsigit berkata “Sebenar-benarnya orang berhasil atau cerdas jika
antisipasi atau a priori”. Seekor kucing saja jika menunggu ekornya tidak akan
mampu menangkap tikus, sehingga mulai sekarang kami harus antisipasi membuat
artikel-artikel sehingga jika ada seminar internasional tinggal dikirimkan. Pak
Marsigit juga membagikan pengalaman beliau mengenai “antisipasi” ini yaitu
Bapak memiliki koper yang full akan dokumen dan sertifikat, dan ternyata
setelah dihitung dokumen dan sertifikat itu mampu membantu bapak untuk
mendapatkan gelar Prof. Oleh karena itu, mulai saat ini kami harus banyak
membaca jurnal, artikel dan buku, sehingga bisa melakukan riset kecil-kecilan
yang hasil datanya valid. Karena “Semua yang terjadi, yang hasil usaha dan
ikthiar itu baik”. Sehingga tidak boleh menyia-nyiakan waktu dan harus mulai
membuat stock artikel dalam bahasa inggris dan sehingga selanjutnya hanya
tinggal menunggu seminar internasional.
Tes jawab singkat pada
hari ini berkaitan dengan mencari notion umum secara filsafat untuk jawaban
kata tanya (yaitu kapan?, bagaimana?, mengapa?, untuk apa?, siapa?, dimana?,
kemana?, dengan siapa?, dan berapa?) dan makna filsafatnya dari
ungkapan-ungkapan sehari-hari (yaitu kata sapaan seperti kata “apa kabar” dan
“hello”, yang saya hormati, hadirin dan hadirot, marilah, hendaknya, saling
menghargai, saling menghormati, barang siapa, benar adalah benar, salah adalah
salah, manusia adalah…, umat, sebenar-benarnya, dan harus). Dan dari 25
pertanyaan tersebut saya hanya berhasil memperoleh nilai 4 atau dengan kata
lain saya hanya berhasil menjawab 1 soal dengan tepat. Hal ini dikarenakan saya
masih menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban orang awam bukan lah jawaban
yang universal/umum secara filsafat. Akan tetapi hasil itu sudah membuat saya
sangat gembira, karena bagi saya mata kuliah filsafat ilmu itu adalah hal yang
baru, baik itu materinya, dan cara belajarnya. Sehingga bagi saya nilai
tersebut sudahlah sangat berharga, akan tetapi hasil tersebut belum memuaskan
karena itu berarti walau saya berhasil mengurangi jarak saya dengan Pak
Marsigit 4 poin namun jarak saya dengan Bapak masih sangat jauh yaitu masih 96 poin
dan itu juga berarti bangunan pengetahuan filsafat ilmu saya masih rendah. Saya
harus lebih banyak membaca kembali.
Setelah tes jawab
singkat, perkuliahan hari ini juga kembali berdasarkan pertanyaan-pertanyaan
yang disampaikan oleh mahasiswa. Karena “Bertanya adalah awal membuka dunia
ilmu” sehingga pembelajaran pun dimulai dengan pertanyaan.
Pertanyaan pertama dari
saudara Wildan yang menanyakan perihal mahasiswa yang ditangkap karena berdemo
mengenai rapor 3 tahun kerja Jokowi di Jakarta. Menurut Pak Marsigit “Semua itu
dinamika”, Jika ingin berdemo maka seharusnya mencari bagaimana berdemo tapi
demonya tidak melanggar tata tertib demo.
Berdemo dan ditangkap adalah hermeunitika, semua memiliki dunianya
masing-masing. Ada dunia pro Jokowi namun ada juga dunia Anti Jokowi. Jadi
ingin demo suka-suka saja tergantung pada koherensi dunianya masing-masing dan
demo pun pada akhirnya akan selesai dengan sendirinya seiring dengan waktu.
Pertanyaan kedua dari
saudara Insan Agung Nugroho yang menanyakan mengenai makna filsafatnya dari
“saling menghargai” dan “saling menghormati”. Pak Marsigit berkata bahwa
“Filsafat itu hamper sama dengan matematika, yaitu mengambil notion umum dari
khususnya”. Misalnya untuk pertanyaan “kapan?”, pertanyaan itu dapat saja di
jawab “kemarin”, “besok, dan “lusa” akan tetapi jawaban itu masihlah jawaban
orang awam, melalui filsafat jawaban tersebut ditingkatkan sehingga mampu
digunakan untuk segala event atau merangkum semua jawaban-jawaban orang awam
tadi, maka muncul lah jawaban “ketika”.
Makna filsafat dari
“saling menghargai” dan “saling menghormati” adalah hermeunitika atau yang
dalam bahasa jawanya “cokro manggilingan”. Hidup itu bergerak maju dan
berputar. Hidup bergerak maju artinya adalah kita tidak bisa mengulangi apa
yang terjadi sekarang dan hidup bergerak berputar artinya adalah sesuatu yang
terjadi saat ini bisa terulang lagi dikemudian hari akan tetapi pasti berbeda
dengan yang sudah terjasi sebelumnya, misalnya selasa akan bertemu dengan
selasa kembali akan tetapi selasa minggu ini berbeda dengan selasa minggu
kemarin yaitu berbeda tanggalnya. Hermenutika adalah terjemah dan ditermejahkan, dan semua yang terjadi dalam hidup,
yang maju/linear dan berputar/siklik ini, mengalami hermeunika. Sebagai
contohnya kegiatan komunikasi atau menjawab telepon, ketika kita menjawab
telpon berarti kita sedang menerjemahkan dan kita sendiri sedang diterjemahkan
oleh orang yang menelpon kita tersebut.
Semua makhluk hidup mulai
dari batu, hewan, bahkan tumbuhan mengalami hermeunitika karena jika tidak ada
kegiatan ini maka tidak bisa hidup. Sebagai contohnya darah bertemu dengan
oksigen itu adalah kegiatan menerjemahkan dan kemudian terjadilah kegiatan
diterjemahkan yaitu ternyata darah mengandung oksigen, selanjutnya dari
kegiatan hermeunitika itu muncullah energi, yang sangat bermanfaat bagi kita
untuk melakukan aktivitas. Sehingga semua yang terjadi dalam hidup itu adalah
hermeunitika maka sebenar-benarnya hidup
adalah hermeunitika. Akan tetapi ternyata setelah hidup pun kegiatan
hermeunitika masih berlangsung, yaitu orang yang sudah meninggal di
hermeunitika kan oleh orang yang masih hidup dan oleh para malaikat. Sehingga sebenar-benarnya hidup bahkan setelah hidup
pun juga hermeunitika. Hal ini dikarenakan hermeunitika itu terjadi di
ruang dan waktu. Jika ada ruang maka ada waktu misalnya saja kita dapat kuliah
hari ini karena sudah jelas ruang dan waktunya.
Pertanyaan ketiga dari
saudari Mariana Ramelan yang menanyakan tips-tips menemukan ide-ide penelitian.
Pak Marsigit mengatakan bahwa “Penelitian hidup karena dirimu yang hidup”,
sehingga untuk menemukan ide-ide penelitian maka itu berarti kita perlu
menghidupkan ide-ide itu melalui membaca jurnal, artikel, buku dan sumber
referensi-referensi lain, serta melalui pengalaman-pengalaman yang pernah kita
dapatkan. Karena pendidikan dan perkuliahan saat ini berorientasi pada riset
maka pengalaman-pengalaman kita, masalah-masalah pembelajaran yang pernah kita
temui di sekolah maupun di perkuliahan dapat dijadikan sebagai riset.
Pertanyaan keempat yaitu
mengenai cara mengajarkan matematika bagi siswa SD. Pak Marsigit menjelaskan
bahwa “Metode belajar yang cocok untuk siswa SD adalah yang cocok dengan
dunianya dan Matematika bagi siswa SD adalah ilmu humaniora, ilmu yang bersifat
intuitif, yang antifondamen, tidak menggunakan definisi, harus dipelajari
melalui kegiatan/aktivitas”. Sebagai pendidik kita harus menjauhi memberikan
matematika dengan definisi, misalnya untuk mempelajari kubus kita hanya
menggunakan definisi “kubus adalah “. Siswa tidak akan mampu belajar dari hanya
definisi, yang terjadi justru siswa akan mengalami kesulitan belajar. Semua
ilmu yang ada di SD adalah aktivitas, misalnya pendidikan agama, pendidikan
agama dapat dipelajari, dipahami, dikuasai oleh siswa melalui aktivitas
beragama.
Pertanyaan kelima yaitu
mengenai perbedaan konsisten dan keajegkan. Pak Marsigit mengatakan bahwa orang
tua yang sudah mengalami kendala umur dan fisik, maka hal itu berarti orang tua
sudah tidak konsisten lagi dalam arti fisik. Contoh yang lainnya lagi adalah
Immanuel Kant sang filsuf yang sangat berpengaruh konsisten akan pikiran dan
waktunya, ini terlihat dari beliau tidak menikah karena hobi berpikir dan
saking konsistenya dia terhadap waktu, beliau dapat dijadikan penanda waktu
oleh orang lain.
Akan tetapi konsisten itu
hanya terjadi di langit, hanya terjadi di pikiran, ketika turun di kenyataan
semuanya menjadi tidak konsisten lagi. Sebagai contoh para pejabat mengucapkan
motivasi dan beragam cita-cita akan tetapi para pejabat tidak mampu mencapai
motivasi serta cita-cita tersebut. Contoh lainnya adalah kegiatan berbohong.
Hidup adalah topeng, tidak ada manusia yang tidak pernah berbohong. Kegiatan
berbohong sendiri adalah metode manusia untuk menembus ruang dan waktu,
misalnya para pejabat korupsi/berbohong karena berkeinginan untuk berhadapan
dengan kekuasaan.
Sekian yang dapat saya
refleksikan dari perkuliah filsafat ilmu pada hari Selasa, 24 Oktober 2017.
Mohon maaf jika ada salah-salah kata dan ada kata-kata yang kurang berkenan.
Sekian dan terima kasih.
Wassalamualaikum, wr.wb
Komentar
Posting Komentar