Langsung ke konten utama

Perjalanan dan Perkembangan Dunianya Para Cetol

Refleksi Kuliah Filsafat Ilmu Pertemuan Ke-4 dan 5

Selasa, 10 dan 17 Oktober 2017


Assalamualaikum wr.wb


Pada kuliah filsafat ilmu hari ini Selasa, 17 Oktober 2017, Pak Marsigit menjelaskan kembali mengenai narasi besar dunia yang telah dijelaskan secara garis besar pada hari selasa, 10 Oktober 2017 lalu. Narasi besar dunia ini berkaitan dengan perkembangan filsafat dari awal zaman hingga akhir zaman. Pada zaman sekarang filsafat yang berlaku adalah fisafat bahasa dan karena filsafat adalah isme yang memiliki arti pusat maka pusat dari filsafat saat ini adalah Bahasa. Semua yang ada dan mungkin ada dijelaskan dengan Bahasa. “Sebenar-benarnya hidupku adalah bahasa, dan diriku adalah bahasa itu sendiri”. Pada zaman sekarang kita itu diibaratkan seperti para cetul atau ikan kecil yang hidup dan berenang di lautan yang sudah tercemar oleh limbah kontemporer/zaman sekarang dan di atas lautan itu berlayar sebuah kapal yaitu kapal filsafat bahasa. Oleh karena itu untuk refleksi kuliah filssafat ilmu hari ini saya memberikan judul “Perjalanan dan Perkembangan Dunianya Para Cetul”. Berikut adalah peta narasi dunia.

  Sumber : Kuliah Filsafat Ilmu Pak Marsigit, Hari Selasa, 17 Okt. 2017

Pada awal zaman yaitu sekitar 2000 thn SM dunianya para cetol dibagi menjadi dua yaitu dunia yang berada di langit dan dunia yang berada di bumi. Langit adalah tempatnya semua gagasan, pikiran dan logicisme nya si para cetol sedangkan bumi adalah tempatnya semua kenyataan mengenai para cetol terjadi. Filsafat memiliki objek yang ada dan mungkin ada maka objek filsafat itu bisa satu atau juga banyak. Jika objek filsafat itu hanya satu atau bersifat tunggal dan hanya ada di pikiran maka filsafatnya disebut monoisme atau jika dikaitkan dengan dunia para cetol maka monoisme itu adalah ketika kita hanya memikirkan/menjelaskan satu objek saja. Selain itu karena objeknya yang bersifat tunggal adanya hanya dalam pikiran/logika maka muncullah filsafat logicisme. Sedangkan jika objek filsafat bersifat banyak di kenyataan maka filsafatnya disebut pluralisme atau jika dikaitkan dengan dunia para cetol maka pluralisme itu adalah ketika satu objek yang kita pikirkan dalam kenyataannya dapat dijelaskan/didefinisikan dengan banyak cara. Dan karena objeknya bersifat plural dan terjadi pada kenyataan di bumi maka muncullah filsafat realisme.
Selain gagasan, pikiran, dan logicisme langit juga merupakan tempat bagi tuhan atau spiritualisme sehingga objek yang tunggal/mono dan bersifat absolut hanya milik tuhan dan muncullah filsafat absolutisme. Sedangkan bumi yang merupakan tempat kenyataan terjadi sehingga objek yang plural dan bersifat relative itu dimiliki oleh para cetol dan karena itu maka muncullah relativisme. Tokoh yang menganut isme-isme ya di atas/langit adalah Plato maka muncullah Platonisme, sedangkan tokoh yang menganut isme-isme yang ada di bawah/bumi adalah Aristoteles dan karena itu muncullah Aristotelianisme.
Objek yang mono yang ada di logika itu bersifat analitik dan konsisten sehingga apa yang ada di langit atau di pikiran/logika bersifat identitas. Contohnya 2 = 2, di dalam pikiran kita 2 yang kiri sama dengan 2 yang kanan yaitu sama-sama angka 2. Sedangkan yang plural yang ada di kenyataan itu bersifat sintetik dan kontrakdisi sehingga apa yang ada di bumi itu bersifat kontrakdisi. Contohnya pada kenyataan 2  2, karena 2 yang di kiri tidak sama dengan 2 yang di kanan, 2 yang di kiri lebih besar daripada yang di kanan. Kaitan hal ini dengan dunia para cetol adalah sebenar-benarnya hidup sang cetol adalah kontrakdisi, karena sang cetol sendiri tidak mampu menyebutkan siapa dirinya karena belum selesai dia menyebutkan siapa dirinya, sang cetol sudah berubah dari tadi menjadi sekarang. Oleh karena itu sesungguhnya hidup adalah penuh dengan kontrakdisi. Selain itu semua ide, gagasan, logicisme yang ada di pikiran disebut dengan A priori sedangkan yang ada di kenyataan disebut dengan A posteriori.
Dari uraian tadi dapat terlihat bahwa semua yang ada di langit merupakan sesuatu yang Absolutisme sehingga yang berada di langit disebut juga aturan dan dunianya disebut dunia maya. Sedangkan semua yang ada di kenyataan di bumi yang Relativisme merupakan bayangan dari aturan yang ada di atas. Contohnya “Ibu Rahayu hadir mengikuti kuliah filsafat ini dan menjadi observer karena bayangan dari dunia maya yang Pak Marsigit WA kan”
Setelah zaman Platonisme dan Aristotelianisme muncullah zaman kegelapan yaitu sekitar abad ke-13. Pada zaman ini dunia para cetol dikuasai oleh gereja, sehingga para cetol tidak bisa mengutarakan pendapat atau kebenaran jika tidak mendapat restu dari gereja. Cetol yang tidak patuh pada gereja akan dikejar, ditangkap, bahkan dibunuh dan salah satu cetol yang menjadi  korban dari zaman ini adalah Galileo Galilei. Zaman ini merupakan zaman kegelapan karena belum tentu semua yang dianggap oleh gereja itu benar. Salah satunya adalah pendapat mengenai pusat tata surya. Gereja berpendapat bahwa pusat tata surya adalah bumi dan oleh karena itu matahari, planet-planet, dan bintang-bintang berputar mengelilingi bumi (Geocentris). Namun ada salah satu cetol yang menentang pendapat itu, yaitu Copernicus. Copernicus berpendapat bahwa pusat tata surya adalah matahari dan oleh karena itu planet-planet termasuk bumi, dan bintang-bintang berputar mengelilingi matahari (Heliocentris). Lalu mengapa pendapat yang digunakan sampai sekarang dan sangat bermanfaat pada perkembangan dunia antariksa adalah pendapat Heliocentrisny Copernicus.
Setelah melalui zaman kegelapan, dunia para cetol terus berjalan dan kemudian memasuki zaman modern, yaitu zaman yang berdasarkan teori Rene Descartes dan David Hume. Pada zaman modern ini, semua yang ada langit/pikiran bersifat rasionalisme dan bersikap skeptisisme, serta cetol yang fanatik terhadap pendapat ini adalah si Rene Descartes. Sedangkan semua yang ada di bumi/kenyataan bersifat empirisisme, dan cetol yang fanatik terhadap pendapat ini adalah si D. Hume.
Rene Descartes fanatik terhadap pikiran karena pengalaman Descartes selama musim salju di Perancis, yang dia lihat di luar putih itu adalah salju. Dia sulit membedakan mimpi di luar salju dan di dalam salju. Descartes tidak bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan, karena mimpinya persis sama dengan kenyataan. Dia berpikit ‘Apa buktinya kalau ini adalah kenyataan bukan mimpi?’ Bahkan Descartes sampai meragukan adanya Tuhan, namun keraguan ini muncul dalam rangka dia mencari Tuhan. Sehingga akhirnya dia pun menemukan kunci atau jawaban dari pertanyaannya sendiri yaitu bahwa satu hal yang paling dapat dipercaya dan merupakan kenyataan adalah dirinya sendiri yang sedang bertanya/berpikir itu, sehingga menurut Descartes itu Aku berpikir maka aku ada (Cogito Ergo Sum ) dan Descartes juga berpendapat bahwa Tiadalah ilmu jika tidak berdasarkan rasio. Sedangkan David Hume membantah semua teorinya Rene Descartes. Menurut Hume Tiadalah ilmu jika tidak berdasarkan pengalaman.
Selama berabad-berabad terjadilah pertentangan dari kedua cetol tersebut dan akhinya pada tahun 1671 muncullah juru damai yaitu si Immanuel Kant. Immanuel Kant berpendapat bahwa pendapat Rene Descartes dan David Hume benar tapi kurang benar. Pendapat Rene Descartes terlalu mendewa-dewakan rasio/pikiran dan mengabaikan pengalaman, sedangkan pendapat David Hume terlalu mendewa-dewakan pengalaman dan mengabaikan pikiran. Sehingga perlu dicari jalan keluarnya yaitu dengan cara menggabungkan pendapat dari kedua cetol tersebut. Dari pendapat Rene Descartes yang mengatakan rasio bersifat a priori diambil a priori nya saja, sedangkan dari pendapat David Hume yang mengatakan bahwa pengalaman itu bersifat sintetik dan a posteori diambil sintetiknya saja. Sehingga menurut Immanuel Kant dalam bukunya The Critic of Pure Reason, Sebenar-benarnya ilmu adalah sintetik a priori.
Setelah zaman nya Sintetik A Priorinya Immanuel Kant muncullah zaman Positivisme nya Auguste Compte yaitu pada tahun 1857. Menurut Compte kita tidak noleh hanya berteori saja tapi kita juga perlu membangun dunia dan menurutnya untuk membangun dunia filsafat tidak ada gunanya dan agama itu tidak penting karena tidak logis untuk membangun dunia (astagfirullah hal adzim) maka diletakkan diurutan paling bawah. Sehingga yang diletakkan yang paling atas adalah positivie (saintifik).
Setelah zaman Positivisme, dunia para cetol memasuki zamannya NKRI pada tahun 1945. Pada zaman ini segala sesuatunya berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Sehingga pada zaman ini untuk membangun dunia dimulai dari Material  Formal  Normatif/Filsafat  Spiritual. Sehingga spiritual diletakkan di posisi paling atas dan semua yang kita lakukan merupakan bayangan dari spiritual.
Selanjutnya dunia para cetol pun terus berjalan dan berkembang hingga sampai pada zaman sekarang yaitu pada tahun 2017. Pada zaman sekarang, semuanya menjelma menjadi kontemporer dan dunia para cetol pada zaman sekarang terpengaruhi oleh kerajaannya Amerika, dan sebagainya yang menganggap bahwa dunia itu diawali dari Archaic  Tribal Tradisional  Feudal  Modern  Posmodern  Pos Posmodern (Power Now). Power Now ini mengacu pada pendapat A. Compte. Sehingga jika pada saat ini dunia para cetol terpengaruhi oleh power now maka dunia para cetol meletakkan spiritual di bawah atau maksimal ditelakkan pada Tradisional. Seharusnya para cetol menghindari pengaruh ini namun apalah daya si cetol-cetol ini, jika tiap hari tiap malam terus digempur oleh kekontemporeran atau power now itu sehingga akhirnya membuat mereka menjadi tidak berdaya. Oleh karena itu kehidupan para cetol saat ini adalah kehidupan yang berada pada lautan yang penuh limbah yaitu limbah kontemporer.
Sekian cerita perjalanan dan perkembangan dunianya para cetol. Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan. Sekali lagi sekian dan terima kasih.

Wassalamualaikum, wr.wb.

Komentar